Cerita Fatih

Fatih hadir di mid 2018, setelah kepergian Arina. Saya pikir saya kelelahan karena sibuk menyiapkan tahlilan jadi telat makan dan mual. Pulang dari rumah kakak, ternyata hitungan mens sudah telat 10 hari. Ditespek ternyata 1 garis merah dan 1 garis pink. 

USG 

Dokter I, SPOG adalah dokter kandungan yang dikenal ganteng, keayahan namun jutek. Beliau adalah dokter yang menolong saat kelahiran Ory di usia 7 bulan. Kata dokter I, sudah terlihat titik janin dalam kantong hamil. Alhamdulillah, lepas KB saat usia Ory 3 tahun dan baru hamil lagi setelah Ory 4,5 tahun. 

Berdasarkan pengalaman saat hamil Ory, saya sengaja tidak ke bidan, beli vitamin sendiri saja. Mual-muntah tidak parah. 

Seminggu kemudian, ketika pipis jongkok, keluar darah segar. Saya pun panik, teriak. Balik ke dokter I. 

Beliau berubah jadi super sabar, menjelaskan bahwa ada kemungkinan kami bisa kehilangan janin ini. Sedih, namun pasrah. Pulang membawa seabrek obat. 

Rutin minum obat, mual-muntah jadi parah. Waktu hamil Ory saya tidak ngidam, hanya cari makanan yang bisa masuk tanpa harus dimuntahkan lagi. Capek. Begitu juga hamil kedua ini, tidak ada ngidam. Saya cuma tidak bisa makan masakan yang rasanya dominan manis, langsung muntah. Makan pun tidak banyak, dan tidak ingin minum susu, beda dengan saat hamil Ory yang ingin susu hamil enak, yang bisa didapatkan dari susu yang harganya lumayan. 

Efeknya, selama hamil berat badan saya cuma naik 5 Kg. Tensi pun selalu rendah. Baru jelang melahirkan saya mulai minum manis dan makan es krim. 

Usia 4 bulan, dokter I melihat jenis kelamin janin laki-laki. Alhamdulillah, setelah punya anak perempuan akan dianugrahi anak laki-laki. Namun kalau pun nanti ternyata terlahir anak perempuan lagi, kami tentu menyambutnya dengan sukacita. 


Nama

Setelah Oryza, saya ingin memberi nama nabati juga pada si Janin. Tadinya mau Zeamay, tapi rasanya lebih pas untuk nama perempuan. Saya pun memilih Tectona bila nanti anak ini laki-laki, artinya kuat dan tahan lama. 


Hipertensi pra-persalinan

Biaya persalinan di dokter I memang terbilang paling mahal di kampung ini, namun berdasarkan pengalaman melahirkan Ory, saya cukup puas dengan hasilnya. Kami tidak menggunakan BPJS, hanya mau melahirkan di dokter I, sedang tidak punya uang cash, jadilah pinjam ke Mamah untuk biaya persalinan 100%. 

Di bulan kesembilan, perut nampak mengecil. Pada hari HPL tidak ada tanda-tanda mau melahirkan. Besok paginya saya kontrol ke dokter I, tensi 140/100. Kata dokter I, perut yang mengecil itu karena produksi cairan ketuban sudah berkurang, bayi harus segera dikeluarkan karena akan berbahaya jika semakin lama di dalam. 

Pulang dari dokter I, saya masih sempat antar Mamah ke bank untuk ambil uang. Jam 14 baru balik lagi ke klinik dokter I untuk check-in persalinan. Kami memilih kamar kelas 2 yang isinya 2 orang. 


Di ruangan bersalin

Masuk ke ruangan bersalin, saya mulai diinfus. Suster memberi obat minum dan obat penurun tekanan darah via infusan. Efeknya, terasa panas seperti terbakar dari dalam, mulai tangan ke seluruh tubuh bahkan ke hidung dan telinga, selama sekitar setengah jam. Suster suruh saya banyak minum. 

Berhubung belum ada kontraksi, saya dikirim ke ruang perawatan. Lampu dimatikan agar tidak memicu tensi naik, dan ranjang sebelah pun tetap kosong agar tidak mengganggu saya. 

Mamah dan Ory menunggu di rumah. Si Ayah minta tolong sepupu untuk menunggui Mamah, takut Mamah lupa menyalakan kompor tanpa dimatikan. Saya hanya memakai baju atasan, celana dalam sudah harus dilepas dan berselimut kain panjang. 

Magrib, kontraksi mulai intens tapi saya masih bisa ngobrol dengan kakak tanh menjenguk meskipun cucunya yang baru 2 bulan sedang dirawat. 

Makin malam, kontraksi makin intens namun pembukaan sangat lambat. Seperti saat mau melahirkan Ory, saya marah-marah pada suster yang periksa tiap jam dan memberi obat penurun tekanan darah, tensi saya masih tinggi saja. Bed rest, bahkan pipis pub pakai pispot. 

"Dicolok" lalu dibilang baru bukaan 3, "Sabar ya Bu! Istighfar saja!" 

Fck! Memang bisa mengurangi sakit?! 

Tubuh saya makin lemas karena menahan sakit semalaman tapi tidak boleh mengejan. Jam 6, suster mengirim saya balik ke kamar bersalin. Rasanya mulas seperti mau BAB, namun kemudian kaki kram. Dokter I minta ijin untuk memvakum, Ayah Ory mengijinkan karena bila dipaksakan melahirkan normal, mungkin bisa kejang. 

Dalam hitungan menit, baby Fatih pun lahir. 


Dirawat 2 hari

Mendengar tangisnya yang kuat, tenang rasanya. Baby Fatih ditelungkupkan di dada saya beberapa detik, lalu dibersihkan dan disimpan di inkubator, katanya ada cairan ketuban yang tertelan. Saya kembali ke kamar. 

Suster bilang kalau mau pipis harus belajar ke kamar mandi, saya pun nurut. Si Ayah sedang mengantar kakak sepupu pulang, saya ditunggui Ory, sementara Mamah ke rumah menyiapkan tempat untuk bayi. Ternyata Si Teteh yang berbadan besar itu jatuh saat akan naik ke boncengan. 

Saat suster berkunjung, saya minta ke kamar mandi. Seketika pandangan saya gelap dan hilang kesadaran selama beberapa detik. Suster yang baik itu tidak kuat menopang tubuh saya. Untung Si Ayah sudah balik, dan saya pun kembali ke tempat tidur. 

Ternyata hal itu terjadi karena saya mengalami banyak perdarahan. Suster memberi obat, sementara baby Fatih sudah dibawa dari ruangan neonatal ke box di samping ranjang saya, lalu menyusul. Baby Fatih menempel terus di dada, kalau dilepaskan dia mulai bergerak-gerak lalu nangis lagi. 

Jam 9, selang dua setengah jam dari kelahiran, dokter anak datang memeriksa baby Fatih. Kemudian memberi resep ke suster dan Sang Suster meneteskan obat antibiotik ke mulut baby Fatih. 

Dan... Disemburkan! 

Suster sampai tertawa melihat bayi yang baru lahir dalam hitungan jam bisa menyemburkan obat. Mungkin lidahnya langsung bisa membedakan rasa ASI yang manis dan obat yang pahit. 

Darah saya masih tinggi, dokter I belum mengijinkan, masih harus menginap 1 malam lagi. Baru Minggu pagi kami diijinkan pulang. 



Kenangan 3 tahun yang lalu itu masih melekat di otak. Fatih tidak mengerti bahwa kami memperingati hari kelahirannya, yang dia tahu seluruh keluarga mencintainya. Dia hanya mengerti mamahnya membuatkan nasi untuk dia. 

Saat saya menyuruh Ory membagikan nasi ke teman-temannya, Fatih minta pegang sendiri kotak nasinya dan memberikan langsung dari tangannya. 

Tulisan ini dibuat agar kelak Fatih juga bisa tahu kisahnya. Inilah cerita Fatih, anak bungsu kami. Sedangkan Si Sulung punya kisahnya sendiri, cerita Oryza





Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url