Pengalaman Gagal Beternak Bebek

Dulu ada jargon "Buku adalah jendela dunia". Seringkali buku dijadikan panduan saat hendak melakukan sesuatu. Kali ini saya akan membagikan pengalaman gagal berternak bebek saat mengandalkan satu buku, bukan resensi buku



Buku ini berjudul "Buku Pintar Bisnis & Beternak Itik" karya Abdul Wakhid terbitan tahun 2010. Tertera penulisnya berasal dari Kroya, Indramayu. Judulnya sangat menggoda, bukan? Di jilidnya terpampang tulisan yang sangat advertised

  • Tip memulai dan mengelola usaha beternak itik 
  • Tip membibitkan dan menetaskan telur itik 
  • Tip meramu sendiri multivitamin untuk menggenjot penambahan bobot itik pedaging 
  • Tip meramu sendiri multivitamin untuk meningkatkan produktivitas itik petelur 
  • 23 tip mengelola bisnis itik, 2 bulan panen itik pedaging dan produktivitas 256 butir telur/ekor 

Di dalamnya juga tertera bila ingin mengikuti bimbingan bisa menghubungi penulis di alamat tersebut. Sungguh buku ini sangat menjanjikan keuntungan di depan mata, buat kami yang tidak ada latar belakang peternak sama sekali. Almarhum Bapak saya dulu pensiunan Polisi, mertua saya memang petani di kampungnya tetapi suami tidak mengerti pertanian karena sejak kecil sekolah di Jawa hingga kini. 

Saya dan suami dengan semangat 45 menghubungi nomor telepon "Penulis" yang tercantum dalam buku. Si "Penulis" pun menerima telepon kami dan menjanjikan akan bertemu di Kroya serta memberi arahan petunjuk jalan menuju ke sana. Namun saat kami ke tempat yang dituju ternyata alamat yang diberikan itu tidak ada, begitu pula dengan nama Abdul Wakhid tidak dikenal, ditelepon pun hapenya mati. 

Dari penduduk sekitar kami diberi petunjuk ke kampung tempat para peternak bebek, dan ketemu. 

Baca juga:  Mandi Cantik dengan Scarlett Bodycare

Lokasi Kroya ini sangat jauh dari jalur Pantura, sekitar 45 menit pakai motor. Di beberapa ruas jalan nampak banyak sawah dan kebun jambu, serta lapak penampungan rongsokan skala besar. Saat akan masuk ke kampung peternak bebek, tercium menyengat bau yang... haduh. Saya hampir tidak bisa napas. 

Bangunan pertama di sebelah kanan jalan bertuliskan "Kelompok Tani". Kami pun singgah di situ, diterima oleh Pak Mito, ketua kelompok Tani di situ. Ternyata Pak Mito ini peternak bebek mulai dari bebek petelur, penetasan, pedaging dan pembibitan. Bangunan ini juga sesungguhnya "rumah peternakan", sedangkan rumahnya sendiri di tengah kampung sana namun dia tinggal di situ menjaga bebek-bebeknya. Dia juga punya buku tentang beternak bebek. 

Katanya, sekampung ini semuanya peternak bebek. Pak Mito yang hanya lulusan SD dan istrinya yang bahkan tidak bisa baca tulis dan hanya bisa bahasa Jawa Indramayu ini memiliki 2 orang anak yang kuliah di Singapura. Wow! Untuk ukuran kampung yang jauh dari keramaian kota, biasanya orang ke keluar negeri untuk bekerja nonformal, namun anak mereka ke Singapura untuk kuliah. 

Mereka itu pasangan suami istri yang cukup ramah. Susahnya kalau ngobrol dengan Pak Mito masih bisa berbahasa Indonesia campur bahasa Indramayu, tapi kalau dengan istrinya saya harus pasang kuping baik-baik karena dia tidak bisa bahasa Indonesia dan logat bahasa Indramayu-nya pun sangat kental, berbeda dengan logat bahasa Cirebon yang sudah akrab di telinga saya. 

Pak Mito memiliki mesin penetasan yang "katanya" didesain dan dibuat sendiri olehnya. Untuk kandang bebek petelur, hanya berbentuk gubuk sederhana beralaskan tanah dan ada kubangan. Setiap musim pasca panen, para peternak bebek petelur ngangon di sawah yang sudah dipanen. Mereka menyewa sawah itu untuk beberapa lama, mendirikan gubuk dan membiarkan ribuan bebeknya berkeliaran cari makan di sawah itu, lalu peternak mengumpulkan telurnya dan menjual ke pasar setempat. 

Hmm, cukup tradisional ya. Hal ini dilakukan untuk menghemat biaya pakan, karena kalau pakan pabrikan yang bagus itu produksi Charoen Phokpand, dicampur dengan sisa sayuran dari pasar dan nasi aron, sedangkan di sawah itu bebek bisa cari makan sendiri. Sedangkan untuk bebek pedaging tidak diliarkan, dalam kandang saja dan diberi makan. 

Dari obrolan dengan Pak Mito, kami memutuskan untuk mencoba beternak ayam pedaging. Pak Mito mengijinkan suami untuk numpang tinggal di situ, menyewa sebuah kandang kecil untuk bebek yang baru menetas dan nanti bila sudah lebih besar akan menyewa kandang miliknya. 



Contoh kandang untuk bebek baru menetas

Kandang tersebut terbuat dari rangka kayu ukuran kurang lebih 1x2 meter, tinggi 20 cm dengan dinding kawat nyamuk, berpenutup, dan kakinya setinggi 1 meter. Saat itu diisi dengan 2.000 ekor anak bebek baru menetas, bahkan belum tumbuh bulu. 

Saat itu musim kemarau, cuaca lumayan panas. Sejak hari pertama dalam sehari banyak sekali yang mati, hingga seminggu bersisa kurang dari 1.000 ekor, paling hanya 800-an. Padahal pakan yang diberikan full pakan pabrikan yang harga sekarungnya mahal (lupa berapa), diharapkan bayi bebek segera besar dan bisa segera dipanen, pakan habis dalam beberapa hari saja. Belum lagi vitamin sachet yang diberikan setiap hari. 

Kata Pak Mito, petugas dari Dinas Peternakan datang sebulan sekali untuk memberi vaksin, menyemprot kandang, dan lain-lain. Naasnya kami, rupanya saat kami beternak di sana belum jadwalnya petugas datang. 

Baca juga: BELLFLOWER GLUTATHIONE POWER BRIGHTENING CREAM

Menyerah. 

Dengan uraian air mata, kami menjual kembali sisa bebek yang ada pada Pak Mito. Total kerugian saat itu sekitar 5 juta Rupiah. 

Dalam "Buku Pintar Bisnis & Beternak Itik" karya Abdul Wakhid terbitan 2010 hanya ada rincian cara beternak bebek dan hitungan keuntungan yang akan diperoleh. Namun hambatan, penyakit, harga pakan yang melonjak, vitamin, vaksin dan segala hal yang berpotensi merugikan itu tidak disebutkan. Begitu pula nomor hape Abdul Wakhid sampai dengan terakhir kami beternak bebek, tidak dapat dihubungi. 

Bertahun-tahun kemudian, saya sempat ngobrol dengan Bu Tetangga yang ternyata mengalami hal yang sama. Dia mendapat informasi bahwa beternak bebek itu sangat menguntungkan. Segera dia menyewa sebidang tanah, membuat kandang dan perlengkapan lainnya, membeli anak bebek, dan... mati semua! Total kerugian yang dideritanya bahkan lebih besar, sekitar 45 juta Rupiah. 

Dari pengalaman saya di atas, saya ingin memberi saran kepada para calon peternak bebek yang tidak punya latar belakang peternakan dan tidak punya pengalaman usaha beternak sama sekali: 

  • Mulailah mencari pengetahuan tentang beternak bebek dai buku atau internet
  • Tentukan pilihan ternak apa yang akan dipilih, apakah bebek petelur, pedaging, atau pembibitan, atau mungkin yang lain (?)
  • Jangan hanya melihat keuntungan saja, cari tahu segala resiko yang akan terjadi. Penyakit, cuaca, vaksin, pakan yang bergizi namun murah, dan lain-lain 
  • Berkonsultasi dengan peternak dan petugas Dinas Peternakan, gali semua ilmunya 
  • Jangan takut untuk memulai usaha peternakan, kemungkinan untuk untung itu sangat terbuka. Namun mulailah dari skala kecil, agar kemungkinan merugi pun kecil 

Tulisan ini dibuat hanya untuk berbagi pengalaman, bukan menggurui. Semoga bisa bermanfaat. 








Next Post Previous Post
4 Comments
  • Arai Amelya
    Arai Amelya September 14, 2021 at 1:59 PM

    Btw, bebek dan itik beda kan ya kak Pit? Hehehe. Soalnya aku agak bingung ternak bebek tapi bukunya itik. Tapi kalau aku sih kayaknya nggak sanggup, susah banget jadi peternak dan salut sama mereka yang sukses

    • Pipit ZL ceritaoryza.com
      Pipit ZL ceritaoryza.com September 14, 2021 at 5:21 PM

      Hewannya beda, prakteknya sama

  • LENSAG MEDIA
    LENSAG MEDIA January 16, 2022 at 11:20 PM

    pengen nyoba ternak bebek

    • Pipit ZL ceritaoryza.com
      Pipit ZL ceritaoryza.com January 16, 2022 at 11:27 PM

      Silakan kk

Add Comment
comment url